Pendidikan

Wednesday, 04/09/2013

Akses Cukup, Mutu Terkendala

Jumlah  SD_per500 murid
Sejak adanya dana otonomi khusus di tahun 2008, belanja pendidikan Aceh meningkat secara riil hampir dua kali lipat; dari Rp 2,3 triliun tahun 2007 menjadi 5,6 triliun di tahun 2013. Belanja pendidikan dengan tambahan dana otsus dan migas telah menjadikan Aceh sebagai daerah dengan belanja perkapita pendidikan tertinggi, pada tahun 2012 berada pada ranking ke-4 di Indonesia.

Besaran anggaran untuk pendidikan menunjukkan Aceh memiliki peluang besar untuk meningkatkan mutu dan layanan pendidikan. Tahun 2013, pemerintah kabupaten/kota memiliki peranan yang lebih besar dengan porsi pengelolaan belanja pendidikan mencapai 88 persen, sedangkan di provinsi sebesar 12 persen.

Indikator aksesibilitas telah menunjukkan peningkatan. Angka partisipasi sekolah meningkat, penyediaan sarana prasarana terutama gedung sekolah dan ruang kelas sudah cukup memadai, bahkan lebih baik dari Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Misalnya, jumlah Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) rata-rata sebanyak 3,7 unit untuk setiap 500 orang murid (grafik-1). Sementara itu rasio siswa per ruang kelas di tingkat SD rata-rata 21 murid per ruang, rasio ini jauh lebih baik dari SPM yaitu tidak melibihi 32 orang murid per ruang kelas (grafik-2).

Aceh masih membutuhkan beberapa prasarana terutama untuk menunjang mutu seperti alat peraga, laboratorium dan perpustakaan. Tingkat ketersediaan fasilitas tersebut masih terbilang minim, terutama untuk tingkat sekolah menengah.

Meskipun aksesibilitas pendidikan sudah memadai, mutu dan daya saing masih merupakan tantangan utama, tercermin dari mutu siswa, tingkat kompetensi guru serta mutu pelayanan di sekolah. Secara umum, mutu lulusan sekolah menengah sangat memprihatinkan. Hasil ujian SNMPTN 2011 menunjukkan nilai rata-rata bidang IPA berada pada peringkat 31 secara nasional, dengan nilai 44,86. Sementara untuk bidang IPS berada pada peringkat 25 dengan nilai 43,19.

Hasil ujian SNMPTN menempatkan mutu lulusan Aceh tidak jauh bebeda dengan beberapa provinsi lain yang selama ini dikategorikan masih terbelakang dari sisi pembangunan. Persoalan mutu juga terlihat pada angka ketidaklulusan tertinggi dalam ujian nasional SMA tahun 2013, yaitu 3,11 persen, sementara rata-rata nasional 0,52 persen. Kemnudian sebanyak 19 persen atau 1.179 sekolah di semua jenjang pendidikan belum terakreditasi (data 2012). [RE | PECAPP]

Komentar